Diabetes Melitus (Pengelolaan Diagnosis)

Diabetes melitus adalah hiperglikemia kronik yang disebabkan oleh defisiensi insulin baik absolut maupun relatif. Secara klinis, diabetes melitus (DM) dibedakan atas empat bentuk yaitu DM tipe-1 yang sebelumnya sering disebut dengan insulin dependent diabetes mellitus (IDDM) atau diabetes melitus juvenil yang sering terjadi pada anak-anak, DM tipe-2 atau non-insulin dependent diabetes mellitus (NIDDM) yang umumnya terjadi setelah dewasa, DM oleh karena penyebab lain, dan DM selama masa kehamilan. DM selama masa kehamilan, selain dapat berpengaruh terhadap ibu, juga dapat berpengaruh juga terhadap bayi yang dikandung ibunya.



diabetes melitus
Alat cek gula darah merek Nesco

Diagnosis Diabetes Melitus

Diagnosis DM dapat ditegakkan apabila memenuhi kriteria berikut :
  1. Ditemukannya gejala klinis poliuria, polidipsia, berat badan yang menurun, dan kadar glukosa darah sewaktu 200 mg/dL (11.1 mmol/L) atau;
  2. Kadar glukosa darah puasa ³ 126 mg/dL (7.0 mmol/L). Puasa adalah tidak mengonsumsi kalori sekurang-kurangnya 8 jam atau;
  3. Kadar glukosa darah 2 jam setelah uji toleransi glukosa oral (OGTT) dengan 75 gram glukosa 200 mg/dL (11.1 mmol/L).

Diabetes melitus tipe-1 adalah DM yang terjadi akibat proses autoimun yang merusak sel-B pankreas sehingga produksi insulin berkurang bahkan terhenti. Anak atau remaja dengan DM tipe-1 mempunyai riwayat poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan selama beberapa minggu dengan disertai hiperglikemia, glikosuria, ketonemia, dan ketonuria.

Insidens DM tipe-1 sangat bervariasi. Insidens tertinggi terdapat di Finlandia yaitu 40/100.000 populasi dan terendah di Karachi (Pakistan) 0,7/100.000 populasi. Puncak insidens DM tipe-1 berada pada dua golongan usia, yaitu 5-6 tahun dan usia pubertas.

Sasaran Pengelolaan Diabetes Melitus

Sasaran pengelolaan DM tipe-1 pada anak meliputi bebas gejala penyakit, dapat menikmati kehidupan sosial, dan terhindar dari komplikasi. Tujuan pengobatan untuk mencapai tumbuh kembang optimal, perkembangan emosional normal, kontrol metabolik yang baik, jarang absen sekolah, pasien tidak memanipulasi penyakit, dan akhirnya mampu mandiri mengelola penyakitnya. Untuk mencapai sasaran dan tujuan tersebut, komponen pengelolaan DM tipe-1 meliputi pemberian insulin, pengaturan makan, olahraga, edukasi, dan pemantauan mandiri. Tujuan terapi insulin untuk menghilangkan gejala hiperglikemia, mencegah terjadinya diabetik ketoasidosis dan koma, mengembalikan masa tubuh, perbaikan kapasitas olah raga dan tampilan kerja, menurunkan frekuensi infeksi, serta mencegah komplikasi jangka panjang.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi penyerapan insulin. Faktor-faktor yang memengaruhi penyerapan insulin adalah lokasi penyuntikkan (dinding perut tercepat, kemudian berturut-turut lengan, paha, dan bokong), kedalaman penyuntikkan (suntikan intra muskular akan mempercepat absorpsi), jenis insulin, dosis insulin (dosis kecil diabsorpsi lebih cepat), kegiatan fisik, ada tidaknya lipodistrofi atau lipohipertrofi (keadaan ini akan memperlambat absorpsi), dan perbedaan suhu (suhu tinggi akan mempercepat absorpsi).

Insulin harus disuntikkan secara subkutan dalam dengan melakukan pinched (cubitan) dan jarum suntik harus membentuk sudut 45 derajat, atau 90 derajat apabila jaringan subkutannya tebal. Tempat penyuntikkan dapat dilakukan di abdomen, paha bagian depan, pantat, dan lengan atas. Penyuntikan dapat dilakukan di daerah yang sama setiap hari, tetapi tidak dianjurkan di titik yang sama. Sebaiknya dilakukan rotasi tempat penyuntikan. Penyuntikan insulin kerja cepat dianjurkan di daerah abdomen sedangkan insulin kerja menengah di daerah paha dan bokong. Pada pasien dengan diabetes tipe 1 atau DM Juvenil, selain melakukan pengobatan dengan terapi insulin dia juga harus mengkontrol metabolismenya. Kontrol metabolik sebagai tujuan utama pengobatan pasien DM berguna untuk mengurangi terjadinya komplikasi. Sebaiknya kontrol metabolik tidak semata-mata didasarkan pada pemeriksaan klinis, tetapi juga diikuti dengan pemeriksaan laboratories. Secara laboratoris kontrol metabolik dapat dinilai dari hasil pemantauan di rumah (urin atau darah) dan HbA1c darah. Pemeriksaan kadar HbA1c wajib dilakukan setiap tiga bulan sekali dan merupakan satu-satunya pemeriksaan yang dapat memberikan evaluasi kadar glukosa darah rata-rata selama tiga bulan terakhir. Dengan pemantauan kadar glukosa darah dapat diperkirakan terjadinya hipoglikemia sehingga tidak berkembang ke arah komplikasi yang lebih parah.


Oleh: Bidan Rina
Editor: Adrie Noor
Sumber: Iidai.or.id



Terima kasih untuk Like/comment FB :