Diabetes Emergency dan Penanganannya

Diabetes emergency adalah situasi darurat yang diakibatkan oleh penyakit diabetes melitus. Diabetes adalah kondisi umum yang melanda lebih dari 20% populasi penduduk Amerika dengan usia di atas 60 tahun. Pasien dengan diabetes, terutama mereka dengan status sosial ekonomi yang lebih rendah atau terbatasnya akses terhadap perawatan primer, sering mencari pertolongan pada unit emergency di rumah sakit. Diabetes emergency harus ditangani dengan segera mengingat bila terjadi keterlambatan dalam pertolongan dapat menyebabkan kematian.



diabetes emergency
Alat cek gula darah merek GlucoDr

Diabetes Emergency Komplikasi

Komplikasi yang berhubungan dengan diabetes emergency yang paling umum dan segera mengancam nyawa dapat terlihat di unit emergency. Komplikasi tersebut meliputi diabetic ketoacidosis (DKA), hiperglikemia hiperosmolar (HHS), dan hipoglikemia. Hipo dan hiperglikemia yang disebabkan oleh diabetes biasanya dirawat di unit emergency rumah sakit. Dokter harus terampil dalam mendiagnosis dan menstabilkan pasien dengan kondisi ini.

Penanganan diabetes emergency di rumah sakit meliputi :
  • Evaluasi awal. Pasien dengan hiperglikemia berat harus segera menjalani penilaian dan stabilisasi jalan nafas serta status hemodinamik. Nalokson untuk membalikkan potensi opiat overdosis, harus dipertimbangkan untuk semua pasien dengan perubahan status mental. Tiamin untuk perawatan akut ensefalopati Wernicke, harus dipertimbangkan pada semua pasien dengan tanda-tanda malnutrisi;
  • Dalam kasus diabetes emergency yang membutuhkan intubasi, pada pasien yang succinylcholine lumpuh tidak boleh digunakan jika diduga hiperkalemia. Penilaian langsung juga termasuk menempatkan pasien dengan monitor jantung dan oksigen serta mendapatkan tanda-tanda vital, glukosa darah, cairan intravena (IV), dan elektrokardiogram untuk mengevaluasi aritmia dan tanda-tanda hiperpigmentasi dan hipokalemia;
  • Cairan intravena. Pasien diabetes emergency sakit kritis dengan hiperglikemia berat akibat DKA atau HHS harus segera diobati dengan cairan infus. Defisit cairan rata-rata untuk pasien dengan DKA adalah 3-5 liter. Jika pasien sadar pemberian cairan intravena diberikan sebanyak 1 liter pada jam pertama kemudian diikuti dengan pemberian cairan infus sebanyak 500 ml/jam selama beberapa jam;
  • Pasien diabetes emergency dengan HHS sering menderita dehidrasi berat, dengan defisit cairan kumulatif 10 liter atau lebih. Para ahli berpendapat bahwa pemberian perlu diberikan ulang sebanyak 250 ml sampai keadaan pasien membaik. Terapi cairan kemudian dilanjutkan sebanyak 150-250 ml/jam berdasarkan status cardiopulmonary dan serum osmolalitas. Pilihan dan tingkat cairan IV untuk pasien dengan DKA yang tidak sakit kritis harus didasarkan pada hasil koreksi natrium serum dan status cairan keseluruhan. Sambil menunggu hasil penelitian laboratorium, sebagian besar pasien ini dapat diberikan cairan infus sebanyak 500 ml. Pasien dengan DKA ringan sampai sedang harus diberikan cairan infus sebanyak 250 ml/jam; pasien dengan natrium serum tinggi harus diberikan cairan infus yaitu sebanyak 250 ml/jam;
  • Terapi insulin. Pasien diabetes emergency sakit kritis dengan DKA harus diberikan dosis muatan insulin reguler pada 0,1 unit/kg berat badan sampai maksimal 10 unit diikuti oleh infus insulin reguler pada 0,1 unit/kg berat badan/jam, sampai maksimum 10 unit/jam. Pasien dengan DKA harus diberikan infus insulin reguler pada 0,1 unit/kg berat badan/jam tanpa dosis muatan untuk meminimalkan risiko hipoglikemia. Insulin tidak boleh diberikan sebelum hipovolemia ditangani dan kalium serum telah dikonfirmasi menjadi lebih dari 3,5 mEq/L. Memberikan insulin untuk pasien dengan tingkat serum potassium kurang dari 3,5 mEq/L dapat memicu aritmia yang mengancam jiwa;
  • Penggantian elektrolit. Pasien diabetes emergency dengan DKA atau HHS mengalami penurunan kalium yang cepat selama resusitasi yang dapat memicu aritmia yang mengancam jiwa. Kematian selama resusitasi awal pasien dengan DKA biasanya disebabkan oleh hiperkalemia, sedangkan hipokalemia adalah penyebab kematian paling umum setelah pengobatan telah dimulai. Oleh karena itu, kalium serum harus diperiksa setiap 2 jam sampai stabil pada semua pasien dengan krisis hiperglikemik, dan pasien ini harus tetap di monitor jantung;
  • Terus evaluasi dan berikan pengobatan. Semua pasien diabetes emergency dengan krisis hiperglikemik memerlukan monitoring glukosa darah setiap jam sampai keadaannya stabil. Pada pasien dengan DKA, cairan tambahan insulin reguler 0,14 unit/kg berat badan dengan pemberian IV harus diberikan jika tingkat glukosa darah tidak berkurang sebesar 10% dalam satu jam pertama. Untuk pasien dengan DKA, dextrose harus ditambahkan ke dalam cairan IV terus menerus setelah glukosa darah telah menurun menjadi kurang dari 250 mg/dl. Pasien dengan HHS yang gula darahnya menurun hingga kirang dari 300 mg/dl harus diperhatikan dengan seksama terhadap tanda-tanda gagal ginjal seperti oliguri dan kolaps kardiovaskular. Pasien ini mungkin memerlukan penambahan cairan IV dekstrosa tanpa pemberian insulin.


Oleh: Bidan Rina
Editor: Adrie Noor
Sumber: stjohn.org



Terima kasih untuk Like/comment FB :