Diabetes Normal Berapa Menurut Medis

Diabetes normal berapa ? Diabetes normal merupakan suatu keadaan yang diharapkan oleh penderita penyakit diabetes melitus. Diabetes normal berapa ? Diabetes normal merupakan keadaan dari kadar gula darah penderita penyakit diabetes melitus yang mendekati nilai normal atau di bawah 200 mg/dl. Penderita diabetes di Indonesia terus mengalami lonjakan dari tahun ke tahun. Jumlah penderita diabetes di Indonesia saat ini mencapai angka 8.000.000 orang dan merupakan peringkat keempat di dunia (berdasarkan data statistik penderita diabetes WHO) setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Jika tidak ditangani secara serius diperkirakan sebesar 22.000.000 jiwa penduduk Indonesia akan mengidap diabetes pada tahun 2030.



diabetes normal berapa
Alat cek gula darah merek GlucoDr
 

Diabetes Normal Berapa Kadar Gula Darahnya?

Diabetes normal berapa kadar gula darahnya? Pada keadaan normal, kadar glukosa darah puasa adalah kurang dari 100 mg/dL dan 2 jam setelah makan kurang dari 140 mg/dL. Sedangkan untuk diabetes, kadar glukosa puasa adalah lebih dari 126 mg/dL dan 2 jam setelah makan lebih dari 200 mg/dL. Maka, prediabetes terletak diantara kedua keadaan tersebut yakni puasa 100–125 mg/dL (IFG) dan 2 jam setelah beban 140–199 mg/dL.

Diabetes normal berapa kadar gula darahnya? Sampai saat ini kriteria diabetes ditetapkan berdasarkan kadar glukosa darah, yang dikaitkan dengan angka kejadian kerusakan (end organ), dalam hal ini retinopati. Untuk puasa, angka tersebut adalah lebih dari 126 mg/dL dan untuk post prandial adalah lebih dari 200 mg/dL karena pada angka tersebut kejadian retinopati mulai meningkat secara tajam. Namun, laporan terakhir mengungkapkan bahwa batas diabetes yang ditetapkan tersebut sebenarnya mungkin sekali lebih rendah dari angka-angka di atas berdasarkan fakta bahwa telah ditemukannya kerusakan (end organ) lebih dini.

Diabetes normal berapa kadar gula darahnya? Label diabetes untuk angka lebih dari 126 mg/dL (puasa) dan lebih dari 200 mg/dL (setelah makan) tetap digunakan, dan spektrum kadar glukosa darah 100–125 (puasa) dan 140–199 (post prandial) dilabel sebagai prediabetes, komplikasi mikro dan makrovaskuler seperti pada diabetes telah didapatkan dalam tingkat tertentu.

Diabetes normal berapa kadar gula darahnya? Risiko IGT untuk menjadi diabetes lebih besar dibanding IFG. Progresivitas IGT menjadi diabetes 6–10% pertahun, sedangkan bila IGT plus IFG dalam kurun waktu 6 tahun meningkat menjadi 65% dibanding hanya 5% pada keadaan normal. Hampir separuh dari mereka yang dengan IGT berpotensi sebagai sindroma metabolik. Prediabetes berpotensi hampir dua kali lebih tinggi mengalami risiko kardiovaskuler dibanding mereka tanpa IGT atau IFG. Pada wanita dengan prediabetes yang konversi menjadi diabetes memiliki risiko kejadian kardiovaskuler 3 kali lebih sering dibanding mereka yang menetap sebagai prediabetes.

Diabetes normal berapa kadar gula darahnya? Suatu studi menyimpulkan bahwa mereka dengan IGT, atau IFG, atau sindroma metabolik mengalami konversi menjadi diabetes 8-10% pertahun, sedangkan apabila memiliki ketiganya, lebih dari 10% pertahun. Risiko terjadinya diabetes dan penyakit jantung koroner meningkat pada mereka yang didiagnosis sebagai sindroma metabolik berdasarkan NCEP, terutama pada laki-laki. Dengan perkataan lain, IGT,IFG, ataupun sindroma metabolik masing-masingnya adalah”prediabetic state” yang meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung koroner. Dalam salah satu studi dibuktikan bahwa IGT atau sindroma metabolik yang meningkatkan risiko diabetes mencapai 5 kali lipat, apalagi kalau kombinasi keduanya.

Diabetes normal berapa kadar gula darahnya? Pada umumnya kecurigaan bahwa seseorang termasuk prediabetes dilandasi oleh prediksi masa depan yang diperoleh secara pengamatan empiris. Misalnya, anak dari penderita DM tipe 2, obesitas sentral, dan lain lain. Untuk keperluan skrining, ditetapkan oleh suatu panel ahli bahwa mereka yang berisiko tinggi menjadi diabetes tersebut, akan diprioritaskan untuk ditest. Untuk menentukan adanya prediabetes adalah yang memiliki:
  • Riwayat diabetes dalam keluarga;
  • Penyakit kardiovaskuler;
  • Overweight atau obese;
  • Lifestyle yang berisiko (sedentatry);
  • Bukan turunan kulit putih;
  • Pernah sebelumnya diketahui IGT atau IFG dan/atau sindroma metabolik;
  • Hipertensi;
  • Dislipidemia;
  • Riwayat diabetes gestasional;
  • Riwayat melahirkan anak > 4 kg;
  • Polycystic ovary syndrome;
  • Mengonsumsi terapi antipsikotik untuk skizofren.


Oleh: Bidan Rina
Editor: Adrie Noor
Sumber:journal.unnes.ac.id



Terima kasih untuk Like/comment FB :