Diabetes Obesitas Penyebab Risiko DM

Diabetes obesitas merupakan salah satu faktor resiko yang dapat memicu terjadinya penyakit diabetes mellitus. Prevalensi diabetes mellitus di dunia meningkat sangat pesat dalam dua dekade terakhir. Meskipun prevalensi DM tipe 1 dan tipe 2 sama-sama meningkat. Namun, prevalensi DM tipe 2 kelihatannya akan lebih cepat peningkatannya di masa depan karena semakin tingginya angka obesitas dan semakin kurangnya aktivitas fisik manusia. Pada tahun 2000, prevalensi DM diperkirakan 0,19% pada orang umur kurang dari 20 tahun dan 8,6% pada orang umur lebih dari 20 tahun. Pada lansia lebih dari 65 tahun prevalensi DM adalah 20, 1%.



diabetes obesitas
Alat cek gula darah merek GlucoDr


Prevalensi pada pria dan wanita sama, kecuali pada usia >60 tahun lebih tinggi pria dibanding wanita. World Health Organization (WHO) menyatakan pada tahun 2005 penderita diabetes melitus mencapai 217 juta dan memperkirakan pada tahun 2030 mencapai 366 juta jiwa. Adanya globalisasi dan perubahan gaya hidup (diet tinggi lemak dan aktivitas fisik rendah) menyebabkan peningkatan kejadian overweight dan obesitas. Kedua hal tersebut diketahui merupakan faktor risiko diabetes melitus tipe 2 sehingga dengan semakin banyaknya orang yang mengalami overweight atau obesitas, semakin banyak pula orang yang menderita diabetes melitus.

Diabetes Obesitas sebagai Faktor Risiko Penyakit Diabetes

Diabetes mellitus dibagi menjadi dua tipe yaitu diabetes mellitus tipe 1 dan tipe 2. Diabetes tipe 1 adalah kondisi hormon insulin yang dihasilkan kurang atau tidak ada sama sekali. Diabetes mellitus tipe 1 ditemukan pada mereka yang berusia muda dan merupakan bawaan genetik. Diabetes mellitus tipe 2 merupakan kondisi tubuh mampu menghasilkan hormon insulin tetapi reseptor terhadap hormon insulin tidak bekerja dengan baik. Diabetes mellitustipe 2 ini kebanyakan diakibatkan karena obesitas, gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat. Adapun ciri - ciri seseorang terkena diabetes mellitus yaitu:
  • Terjadi penurunan berat badan tanpa sebab;
  • Frekuensi buang air kecil meningkat;
  • Penglihatan kabur;
  • Sering haus;
  • Lesu dan kurang tenaga.

Diabetes mellitus tipe 2 adalah penyakit yang penyebabnya multifaktor mencakup faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor-faktor risiko DM antara lain overweight (BMI ≥ 25), hipertensi (sistolik ≥ 140 mmHg), peningkatan LDL (Low Density Llipoprotein) dan trigliserid (≥ 250 mg/dl), rendahnya kadar HDL (High Density Lipoprotein) ≤ 35 mg/dl, gangguan toleransi glukosa, kurangnya aktivitas fisik, ras, riwayat diabetes gestasional atau bayi lahir besar (>4 kg) dan adanya riwayat penyakit pembuluh darah.

Diabetes obesitas telah menjadi pandemik di negara maju. Di Amerika Serikat misalnya, ada pertambahan penderita diabetes sebanyak 3 juta orang dalam waktu 2 tahunsehingga sekarang diperkirakan jumlahnya 24, 1 jiwa. Selain itu, penting diketahui bahwa ada sejumlah 57 juta orang lagi dalam kriteria prediabetes.

Penentuan diabetes obesitas, umum dilakukan berdasarkan IMT (Indeks Masa Tubuh) yang diciptakan pada abad ke-19 oleh ahli statistik dari Belgia bernama Adolphe Quetelet. IMT dihitung dari berat badan dalam kilogram dibagi tinggi badan dalam meter kuadrat, sedangkan obesitas sentral berdasarkan lingkar perut (LP). Saat ini kriteria utama diabetes obesitas menurut WHO adalah IMT, yang mungkin kurang tepat bagi populasi Asia. Hal ini tampak dari meningkatnya penyakit degeneratif terkait dengan obesitas sentral pada populasi Asia dengan IMT rendah.

Diabetes obesitas atau obesitas sentral merupakan salah satu dari sindrom metabolik, yaitu kumpulan gejala yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler dan diabetes obesitas, dapat terjadi pada satu dari 5 orang dan prevalensinya meningkat sesuai peningkatan umur. Menurut konsensus International Diabetes Federation mendefinisikan metabolic syndrome adalah diabetes obesitas atau obesitas sentral yang disertai dua dari gejala di bawah ini:
  • Trigliserida > 150 mg/dl;
  • HDL kolesterol < 40 mg/dl untuk pria dan < 50 mg/dl untuk wanita;
  • Hipertensi, tekanan darah > 130/85 mmHg;
  • Diabetes Mellitus Tipe 2 atau glukosa puasa > 100 mg/dl.

Berdasarkan hasil penelitian diabetes obesitas atau obesitas sentral berdasarkan lingkar perut lebih berperan sebagai faktor risiko DM dibandingkan dengan obesitas umum berdasarkan IMT. Oleh karena itu untuk antopometri yang dilakukan dalam suatu survei, selain tinggi dan berat badan, lingkar perut sebaiknya diukur.

Prevalensi diabetes obesitas atau obesitas sentral juga dapat digunakan untuk melakukan estimasi dan proyeksi beban penyakit akibat DM, bila pengukuran kadar gula darah 2 jam setelah pemberian glukosa anhidrat 75 gram untuk menegakkan diagnosis DM, tidak bisa dilaksanakan dalam survei.


Oleh: Bidan Rina
Editor: Adrie Noor
Sumber:dokternetworkangk97.blogspot.com



Terima kasih untuk Like/comment FB :