Kadar Gula Darah pada Anak (Tes Glukosa)

Kadar gula darah dapat menjadi patokan terpenting dalam menentukan suatu penyakit di antaranya ialah penyakit diabetes melitus. Penyakit ini terdiri dari dua tipe, yaitu tipe 1 dan tipe 2. Diabetes Mellitus (DM) tipe 1 merupakan salah satu penyakit kronis yang sampai saat ini belum dapat disembuhkan. Walaupun demikian berkat kemajuan teknologi kedokteran, kualitas hidup penderita DM tipe 1 dapat sepadan dengan anak-anak normal lainnya jika mendapat tata laksana yang adekuat. Sebagian besar penderita DM pada anak termasuk dalam DM tipe 1, tetapi akhir-akhir ini prevelensi DM tipe 2 pada anak juga semakin meningkat.


kadar gula darah
 Alat cek gula darah multi fungsi merek Nesco


Tes Toleransi Glukosa untuk Mengukur Kadar Gula Darah pada Anak

DM tipe 1 adalah kelainan sistemik akibat terjadinya gangguan metabolisme glukosa yang ditandai oleh hiperglikemia kronik. Keadaan ini diakibatkan oleh kerusakan sel-β pankreas baik akibat proses autoimun maupun idiopatik sehingga produksi insulin berkurang bahkan terhenti.

Kadar gula darah puasa dianggap normal bila kadar glukosa darah kapiler kurang dari 126 mg/dL (7 mmol/L). Glukosuria saja tidak spesifik untuk DM sehingga perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan glukosa darah. Diagnosis DM dapat ditegakkan apabila memenuhi salah satu kriteria sebagai berikut.

Para peneliti menemukan pula gejala klinis poliuria, polidpsia, polifagia, berat badan yang menurun, dan kadar gula darah sewaktu lebih dari 200 mg/dL (11,1 mmol/L).  Pada penderita yang asimtomatis ditemukan kadar gula darah sewaktu lebih dari 200 mg/dL atau kadar gula darah puasa lebih tinggi dari normal dengan tes toleransi glukosa yang terganggu pada lebih dari satu kali pemeriksaan.

Pada anak biasanya tes toleransi glukosa (TTG) tidak perlu dilakukan untuk mendiagnosis DM tipe 1 karena gambaran klinis yang khas. Indikasi TTG pada anak adalah pada kasus-kasus yang meragukan yaitu ditemukan gejala-gejala klinis yang khas untuk DM, tetapi pemeriksaan kadar gula darah tidak menyakinkan.

Dosis glukosa yang digunakan pada TTG adalah 1, 75 g/kgBB (maksimum 75 g). Glukosa tersebut diberikan secara oral (dalam 200-250 ml air) dalam jangka waktu 5 menit. Tes toleransi glukosa dilakukan setelah anak mendapat diet tinggi karbohidrat (150-200 g per hari) selama tiga hari berturut-turut dan anak puasa semalam menjelang TTG dilakukan. Selama tiga hari sebelum TTG dilakukan, aktivitas fisik anak tidak dibatasi. Anak dapat melakukan kegiatan rutin sehari-hari. Sampel glukosa darah diambil pada menit ke 0 (sebelum diberikan glukosa oral), 60 dan 120.

Beberapa hal perlu diperhatikan dalam melaksanakan TTG yaitu:
  • Anak tidak sedang menderita suatu penyakit;
  • Anak tidak sedang dalam pengobatan/minum obat-obatan yang dapat meningkatkan kadar glukosa darah;
  • Jangan melakukan pemeriksaan dengan glukometer/kapiler, gunakanlah darah vena;
  • Berhubung kadar glukosa darah dapat berkurang 5 % per jam apabila dibiarkan dalam suhu kamar, maka setelah darah vena diambil dengan pengawet EDTA/heparin harus segera disimpan di lemari es;
  • Sampel darah dapat harus segera disen-trifus agar kadar glukosa darah tidak menurun.

Dari hasil TTG tersebut kita dapat mendiagnosis anak, apakah terkena penyakit diabetes atau tidak. Setidaknya terdapat tiga kemungkinan kesimpulan dari hasil TTG, yaitu:
  • Anak menderita DM apabila kadar gula darah puasa ≥ 140 mg/dL (7, 8 mmol/L) atau Kadar glukosa darah pada jam ke 2 ≥ 200 mg/dL (11,1 mmol/L);
  • Anak dikatakan menderita toleransi gula terganggu apabila kadar gula darah puasa lebih dari 140 mg/dL (7,8 mmol/L) dan kadar gula darah pada jam ke 2: 140-199 mg/dL (7,8-11 mmol/L);
  • Anak dikatakan normal apabila kadar gula darah puasa (plasma) kurang dari 110 mg/dL (6, 7 mmol/L) dan kadar glukosa darah pada jam ke-2 kurang dari 140 mg/dL (7, 8-11 mmol/L).


Oleh: Bidan Esi
Editor: Adrie Noor
Daftar Pustaka: parenting.co.id



Terima kasih untuk Like/comment FB :