Masalah Terapi Obat Diabetes Melitus Gestasional

Masalah terapi obat diabetes melitus dapat terjadi pada penderita penyakit diabetes melitus. Masalah terapi obat diabetes melitus dapat terjadi lebih besar bila obat-obatan yang digunakan berbahan dasar dari kimia. Obat-obatan yang berbahan dasar dari kimia biasanya dapat menimbulkan efek samping, bahkan masalah terapi obat diabetes melitus dapat terjadi pada diabetes gestasional. Diabetes Mellitus Gestasional (GDM=Gestational Diabetes Mellitus) adalah keadaan diabetes atau intoleransi glukosa yang timbul selama masa kehamilan, dan biasanya berlangsung hanya sementara atau temporer. Sekitar 4-5% wanita hamil diketahui menderita GDM, dan umumnya terdeteksi pada atau setelah trimester kedua.


masalah terapi obat diabetes melitus
Alat cek gula darah multi fungsi merek Nesco

    

Masalah Terapi Obat Diabetes Melitus Gestasional

Diabetes dalam masa kehamilan, walaupun umumnya kelak dapat pulih sendiri beberapa saat setelah melahirkan, namun dapat berakibat buruk terhadap bayi yang dikandung. Akibat buruk yang dapat terjadi antara lain malformasi kongenital, peningkatan berat badan bayi ketika lahir dan meningkatnya risiko mortalitas perinatal. Di samping itu, wanita yang pernah menderita GDM akan lebih besar risikonya menderita lagi diabetes di masa depan. Oleh karena itu, diperlukan kontrol metabolisme yang ketat dapat mengurangi risiko-risiko tersebut.

Gestational diabetes mellitus (GDM) adalah gangguan toleransi glukosa berbagai tingkat yang diketahui pertama saat hamil tanpa membedakan apakah penderita memerlukan terapi insulin atau tidak. Hasil penelitian menjelaskan bahwa insiden diabetes gestasional meningkat seiring dengan meningkatnya umur perempuan melahirkan. Diabetes gestasional 9, 7% terjadi pada perempuan usia 46-50 tahun, tetapi hanya 1, 4% terjadi pada perempuan usia 16-20 tahun. Hal ini mungkin disebabkan indeks masa tubuh perempuan usia 46-50 tahun lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan usia 16-20 tahun dan terjadinya diabetes gestasional disebabkan oleh faktor kekurangan insulin dan resistensi insulin.

Pada umumnya sudah diketahui pada saat perempuan hamil, plasenta berperan untuk memenuhi semua kebutuhan janin. Hormon yang membantu pertumbuhan janin adalah hormon dari plasenta, tetapi hormon-hormon ini mencegah juga kerja insulin dalam tubuh ibu. Problema inilah yang disebut resistensi insulin resistensi insulin membuat tubuh ibu sulit untuk mengatur kadar gula darah, padahal tanpa cukup insulin, glukosa tidak dapat diubah menjadi energi. Akibatnya glukosa menumpuk di dalam darah dan menyebabkan hiperglikemia.

Walaupun dasar biokimia terjadinya resistensi insulin masih sulit untuk dijelaskan, tetapi penelitian akhir-akhir ini memusatkan pada dua hal yang saling berkaitan dan merupakan variabel utama yang terdapat dalam otot rangka yaitu komposisi asam lemak dari struktur lipid membran otot dan proporsi relatif serat utama. Sejumlah penelitian memperlihatkan fakta bahwa perubahan komposisi asam lemak dalam fosfolipid membran sangat memengaruhi keaktifan insulin. Gangguan ini berupa gangguan pengikatan insulin pada reseptor dan peristiwa sesudah pengikatan dengan reseptor. Secara umum semakin jenuh asam lemak lipid membran maka semakin kurang sesitivitas insulin. Peneliti menemukan pula ketika semakin gemuk seseorang maka semakin jenuh asam lemak fosfolipid membran jaringan, laju metabolisme makin rendah. Hal ini merupakan predisposisi bagi penimbunan lemak. Setelah waktu yang lama akan mengakibatkan terjadinya obesitas dan selanjutnya menyebabkan terjadinya resistensi insulin.

Masalah terapi obat diabetes melitus gestasional dalam praktiknya dapat saja terjadi pada ibu hamil. Masalah terapi obat diabetes melitus dari penggunaan obat-obatan penurun kadar gula darah tinggi oleh ibu hamil beresiko dapat membuat kelainan pada janin yang dikandungnya. Kelainan tersebut dapat berupa malformitas, BBLR dan sebagainya. Masalah terapi obat diabetes melitus pada ibu hamil harus diperhatikan dengan seksama. Namun sebaiknya, pada ibu hamil sedapat mungkin tidak menggunakan obat-obatan agar masalah terapi obat diabetes melitus dapat terhindari.

Status kadar glukosa darah sebaiknya dimonitor setiap enam minggu atau lebih setelah melahirkan dan jika hasilnya normal, kadar glukosa darah selanjutnya dipantau setiap tiga tahun. Selain memonitor kadar glukosa darah, wanita penderita diabetes gestasional setelah melahirkan sebaiknya menerapkan pola makan yang sehat, olah raga teratur, dan pemeriksaan secara berkala. Untuk dapat melakukan semuanya itu tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Berbagai penelitian menjelaskan bahwa olahraga yang teratur bersamaan dengan diet yang tepat dan penurunan berat badan merupakan penatalaksanaan diabetes yang dianjurkan terutama untuk diabetes mellitus tipe 2. Pada orang normal, energi pada waktu berolahraga terutama berasal dari glukosa dan asam lemak bebas. Pada awal kegiatan olahraga kedua bahan tersebut merupakan sumber utama, tetapi pemakaian glukosa pada tingkat ini lebih cepat, sedangkan pada penderita diabetes, olahraga bermanfaat untuk meningkatkan penurunan kadar glukosa darah, mencegah kegemukan dan ikut berperan untuk mengatasi kemungkinan terjadinya komplikasi.


Oleh: Bidan Esi
Editor: Adrie Noor
Daftar Pustaka: med.or.jp



Terima kasih untuk Like/comment FB :