Patofisiologi Diabetes Melitus (Penjelasan)

Patofisiologi diabetes melitus atau penyakit kencing manis menggambarkan bagaimana penyakit diabetes melitus tersebut dapat terjadi pada seseorang. penyakit diabetes melitus dapat timbul sebagai akibat dari adanya peningkatan kadar gula darah di dalam tubuh. Peningkatan kadar gula darah ini terjadi karena hormon insulin tidak mampu untuk mengubah gula darah menjadi energi yang diperlukan oleh sel-sel tubuh dan jaringan. Akibatnya, banyak gula darah masih tertimbuh di dalam darah. Selain itu, penyakit diabetes melitus juga merupakan penyakit degeneratif dengan sifat kronis yang prevalensinya meningkat setiap tahun. Pada tahun 1983, prevalensi DM di Jakarta baru sebesar 1,7%, pada tahun 1993 prevalensinya meningkat menjadi 5,7%, dan pada tahun 2001 melonjak menjadi 12,8%. Seiring dengan peningkatan tersebut sebaiknya upaya pencegahan terhadap penyakit diabetes melitus harus dijalankan oleh setiap individu.



patofisiologi diabetes melitus
Alat cek gula darah merek Nesco

Uraian Patofisiologi Diabetes Melitus

Patofisiologi diabetes melitus berawal dari organ penting yang bernama pankreas. Patofisiologi diabetes melitus yang terjadi pada penderita penyakit diabetes melitus berawal dari adanya gangguan terhadap pankreas dalam memproduksi hormon insulin. Kelenjar pankreas disebut juga sebagai kelenjar ludah perut. Kelenjar pankreas ini berfungsi dalam memproduksi insulin. Kelenjar pankreas ini terletak di belakang lambung. Di dalam kelenjar pankreas terdapat beberapa kumpulan sel yang berbentuk seperti pulau pada peta sehingga kumpulan sel tersebut sering juga disebut dengan pulau-pulau Langerhans. Pulau-pulau Langerhans berisikan sel beta yang dapat mengeluarkan hormon insulin. Hormon insulin sangat erat kaitannya dalam pengaturan kadar gula darah di dalam tubuh.

Umumnya dalam keadaan normal hormon insulin dalam jumlah yang cukup banyak akan dikeluarkan oleh sel beta yang terdapat pada pulau-pulau Langerhans. Namun, pada penderita penyakit diabetes melitus, hormon insulin yang terbentuk bersifat sedikit. Dapat diibaratkan bahwa hormon insulin ini sebagai anak kunci yang dapat membuka gerbang agar glukosa atau gula dapat masuk ke dalam sel untuk kemudian dimetabolisme menjadi tenaga. Apabila hormon insulin yang dibentuk kurang bahkan tidak ada maka glukosa atau zat gula akan tetap berada di dalam darah dan tidak dapat masuk ke dalam sel. Sebagai akibat dari kondisi ini maka kadar gula dalam darah menjadi meningkat. Keadaan inilah yang dapat membuat seseorang mengalami penyakit diabetes melitus.

Namun, terdapat perbedaan patofisiologi diabetes melitus yang mendasar terhadap jenis diabetes yang terjadi. Pada patofisiologi diabetes melitus tipe 1, pankreas atau sel beta pada pulau-pulau Langerhans sama sekali tidak dapat memproduksi hormon insulin  sedangkan pada patofisiologi diabetes melitus tipe 2 jumlah hormon insulin yang diproduksi dapat bersifat normal, bahkan lebih banyak daripada biasanya. tetapi jumlah reseptor ataupun penangkan insulin pada permukaan sel yang berkurang. Reseptor insulin ini dapat diumpamakan sebagai lubang kunci pintu untuk masuk ke dalam sel. Apabila lubang kuncinya kurang walaupun kuncinya banyak tetap saja glukosa yang dapat masuk ke dalam sel dapat berjumlah sedikit sehingga tetap saja glukosa di dalam darah tetap meningkat.

Keadaan ini sama dengan keadaan pada diabetes melitus tipe 1. Bedanya ialah pada patofisiologi diabetes melitus tipe 2, di samping kadar glukosa darahnya yang tinggi, kadar insulinnya bisa dalam keadaan tinggi ataupun normal. Selain itu, pada diabetes meitus tipe 2 kualitas dari hormon insulinnya memiliki kualitas yang kurang baik sehingga dapat gagal membawa glukosa untuk masuk ke dalam sel. Selain beberapa penyebab dari penyakit diabetes melitus yang umum terjadi, penyakit diabetes melitus juga dapat terjadi karena gangguan transport glukosa di dalam sel sehingga gagal digunakan sebagai bahan bakar untuk metabolisme energi.


Oleh: Bidan Esi
Editor: Adrie Noor
Sumber: Pojoksehat.com



Terima kasih untuk Like/comment FB :