Penanganan Diabetes Ketoasidosis secara Medis

Penanganan diabetes ketoasidosis dapat dilakukan dengan beberapa cara. Diabetes asidosis merupakan salah satu komplikasi dari penyakit diabetes melitus. Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kematian di dunia. Penyakit tersebut terjadi pada tipe 2 dan jika telah terjadi komplikasi maka tidak dapat disembuhkan, terutama pada penderita diabetes tipe 1 kemungkinannya sangat kecil untuk bisa sembuh. Baik Diabetes Mellitus tipe 1 maupun Diabetes Mellitus tipe 2 dengan komplikasi akut atau disebut dengan ketoasidosis.


penanganan diabetes ketoasidosis
Alat cek gula darah merek GlucoDr

Penanganan Diabetes Ketoasidosis secara Medis

Penanganan diabetes ketoasidosis pada prinsipnya lebih ditujukan pada pemulihan keadaan penderitanya. Biasanya pada penderita diabetes ketoasidosis diberikan penanganan diabetes ketoasidosis berupa terapi cairan, terapi insulin, dan koreksi elektrolit. Penanganan diabetes ketoasidosis berupa terapi cairan dilakukan dengan cara bila terjadi syok dapat diberikan NaCl dengan konstrasi 0,9% sebanyak 20 ml dalam waktu 1 jam, berikan NaCl tersebut sampai syok dapat teratasi. Kemudian yang dilakukan selanjutnya ialah resusitasi cairan yang diberikan secara perlahan dalam waktu 36 sampai dengan 48 jam yang ditangani berdasarkan derajat dehidrasi. Penanganan diabetes ketoasidosis berupa terapi cairan selanjutnya diberikan selama keadan dari penderita yang belum stabil maka pasien dianjurkan puasa. Bila pada pasien tersebut ditemukan hipernatremi maka lakukan resusitasi cairan selama 72 jam. Biasanya pada resusitasi cairan awal yang diberikan ialah NaCl dengan konstrasi 0, 9%. Namun, bila kadar gula darah turun atau di bawah 250 mg/dl maka dapat digantikan dengan dektrose 5% dalam NaCl 0, 45%.

Penanganan diabetes ketoasidosis berupa terapi insulin diberikan setelah syok teratasi dan cairan resusitasi sedang berlangsung. Insulin yang digunakan ialah insulin reguler. Penurunan kadar gula darah yang diharapkan berjalan lambat 75 sampai dengan 100 mg/dl/jam. Apabila kadar gula darah sudah stabil maka insulin intravena dihentikan dan dimulai dengan asupan oral. Asupan oral yang diberikan dapat berupa makanan ringan dosis insulin yang digandakan 2 kali selama makan sampai 30 menit setelah selesai. Untuk makan besar dosis insulin digandakan sebanyak 3 kali selama makan sampai 60 menit setelah selesai. Selanjutnya untuk insulin dapat diberikan secara SC dengan dosis 0, 5 sampai 1 U/kgBB/hati dibagi 4 dosis.

Penanganan diabetes ketoasidosis berupa koreksi elektrolit dilakukan dengan mengkoreksi kadar natrium, koreksi hipernatremia, dan koreksi kalium, sedangkan untuk asidosis metabolik tidak perlu dilakukan koreksi.

Ketoasidosis dapat terjadi karena kadar gula dalam darah sangat tinggi dan kondisi tersebut merupakan kondisi gawat darurat yang harus segera di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis karena keadaan tersebut dapat mengancam jiwa penderita. Lalu, apa perbedaan ketoasidosis pada Diabetes Mellitus tipe 1 dengan Diabetes Mellitus tipe 2? Pada Diabetes Mellitus tipe 1 ketoasidosis dapat terjadi kapan saja sedangkan pada Diabetes Mellitus tipe 2 ketoasidosis dapat terjadi pada kondisi tertentu  penderita Diabetes Mellitus tipe 2 biasanya sering mengalami koma hiperosmolar non-ketotik.

Gejala awal ketoasidosis tidak jauh berbeda dengan gejala Diabetes Mellitus yang tidak diobati seperti sering merasa haus, mulut kering, sering buang air kecil dan gejala lainnya seperti mual, muntah dan nyeri perut dapat juga terjadi. Gejala-gejala selanjutnya yang dapat terjadi yaitu berupa sesak napas, dehidrasi, rasa mengantuk, dan yang paling berat adalah keadaan koma.

Ketoasidosis biasanya dipicu karena tidak patuhnya diabetesein (penderita diabetes) mengikuti pola diet yang dianjurkan dan jarang melakukan pemeriksaan kadar gula darah dan kadar glukosa urine secara teratur. Maka dari itu, sangat penting bagi para penderita diabetes untuk melakukan serangkaian tindakan yang dianjurkan oleh dokter agar tidak terjadi ketoasidosis.


Oleh: Bidan Rina
Editor: Adrie Noor
Sumber: klikdokter.com



Terima kasih untuk Like/comment FB :