Terapi Non Obat Diabetes Mellitus

Terapi non obat pada penderita diabetes mellitus sangat mungkin untuk dilakukan. Diabetes Mellitus merupakan penyakit keturunan yang sulit disembuhkan. Dari tahun ke tahun penderita diabetes di Indonesia semakin bertambah, bahkan penyakit Diabetes Mellitus membunuh lebih banyak dibandingkan dengan penyakit HIV. Diabetes Mellitus yang selanjutnya disebut DM adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat penggunaan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron.


terapi non obat
 Alat cek gula darah multi fungsi merek Easy Touch


Terapi Non Obat Pada Penderita Diabetes Mellitus

  Terapi non obat pada penderita diabetes mellitus sangatlah mungkin untuk dilakukan. Banyak cara untuk menangani diabetes mellitus untuk pencegahan komplikasi. Seperti dengan diet, aktivitas fisik dan pengobatan baik injeksi maupun oral. Namun, pada pembahasan kali ini akan dibahas mengenai peaanganan diabetes tanpa obat yaitu dengan cara mengatur diet dan berolah raga.

Terapi non obat pada penderita diabetes mellitus salah satunya adalah dengan diet seimbang. Pemberian diet diusahakan untuk dapat memenuhi kebutuhan pasien diabetes mellitus, sehingga pelaksanakan diet diabetes mellitus hendaknya diikuti pedoman 3J (Jumlah, Jadwal, dan Jenis). Diabetes Mellitus sering menimbulkan komplikasi yang bersifat menahun (kronis). Pasien diabetes mellitus yang tidak mendapat penanganan yang baik akan mengalami komplikasi.

Diet merupakan terapi non obat bagi penderita diabetes mellitus. Tujuan utama terapi diet sebagai terapi non obat pada penderita diabetes mellitus adalah untuk mencapai dan mempertahankan kadar gula darah menjadi normal atau mendekati normal. Pengetahuan pasien tentang diet diabetes melitus merupakan hal yang sangat penting untuk membentuk perilaku kepatuhan dalam menjalani diet sehingga tujuan tersebut dapat tercapai. Salah satu tolak ukur kepatuhan dalam menjalani terapi diet adalah kadar gula darah pasien yang terkontrol.

Diet yang baik merupakan kunci keberhasilan penatalaksanaan diabetes. Diet yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam hal karbohidrat, protein, dan lemak sesuai dengan kecukupan gizi baik sebagai berikut:
  • Karbohidrat: 60-70%;
  • Protein: 10-15% ;
  • Lemak: 20-25%.

Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur, stres akut, dan kegiatan fisik. Pada dasarnya ditujukan untuk mencapai dan mempertahankan berat badan ideal. Masukan serat sangat penting bagi penderita diabetes, diusahakan paling tidak 25 g per hari. Di samping akan menolong menghambat penyerapanlemak, makanan berserat yang tidak dapat dicerna oleh tubuh juga dapat membantu mengatasi rasa lapar yang kerap dirasakan penderita DM tanpa risiko masukan kalori yang berlebih. Di samping itu makanan sumber serat seperti sayur dan buah-buahan segar umumnya kaya akan vitamin dan mineral.

Selain dengan pengaturan diet sebagai terapi non obat pada penderita diabetes mellitus, terapi non obat pada penderita diabetes mellitus lainnya yang dapat dilakukan untuk menangani diabetes yaitu berolah raga. Dengan melakukan olahraga yang teratur maka dapat membuat kadar gula darah yang tinggi untuk turun. Kadar gula darah yang tinggi dapat menurun oleh olahraga karena di dalam tubuh akan mengolah gula darah tersebut menjadi energi sehingga kadar gula darah dapat turun. Sebenarnya melakukan olahraga untuk menurunkan kadar gula darah tidak harus olahraga yang berat. Hal terpenting yakni olah raga dilakukan secara teratur walaupun olahraga yang dilakukan tergolong ringan, tetapi akan memberikan manfaat yang baik untuk kesehatan.

Olahraga sebagai terapi non obat pada penderita diabetes mellitus yang disarankan adalah yang bersifat CRIPE (Continuous, Rhytmical, Interval, Progressive, and Endurance Training). Sedapat mungkinaktivitas olahraga  mencapai zona sasaran 75-85% denyut nadi maksimal (220-umur) dan disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penderita. Beberapa contoh olah raga yang disarankan, antara lain jalan atau lari pagi, bersepeda, berenang, dan sebagainya. Olahraga aerobik ini paling tidak dilakukan selama total 30-40 menit per hari didahului dengan pemanasan 5-10 menit dan diakhiri pendinginan antara 5-10 menit. Olah raga akan memperbanyak jumlah dan meningkatkan aktivitas reseptor insulin dalam tubuh dan juga meningkatkan penggunaan glukosa.


Oleh: Bidan Rina
Editor: Adrie Noor
Sumber: terapidiabetesmelitus.com



Terima kasih untuk Like/comment FB :